Market Sepatu Bergeser, Brand Besar Menurun dan Pendatang Baru Makin Mendominasi

Rak sepatu beberapa tahun lalu terasa mudah ditebak. Brand besar menguasai perhatian, dari sepatu lari, sneakers harian, sampai sepatu lifestyle. Sekarang ceritanya mulai berubah. Nama seperti On, Skechers, New Balance, dan berbagai brand lokal makin sering muncul di kaki orang, bukan hanya di iklan atau etalase toko.
Pertanyaannya sederhana, apakah market sepatu benar-benar mulai bergeser?
Jawabannya: ya, tetapi bukan karena brand besar langsung kalah. Pergeserannya terjadi karena konsumen kini punya alasan baru saat memilih sepatu. Mereka tidak lagi hanya mengejar logo besar. Mereka mencari kenyamanan, identitas, harga yang masuk akal, dan cerita brand yang terasa dekat.

Brand besar tidak hilang, tetapi dominasinya mulai diuji
Nike, Adidas, dan beberapa nama besar lain masih punya kekuatan besar. Mereka punya sejarah, teknologi, atlet global, dan jaringan distribusi yang luas. Produk mereka juga tetap dicari, terutama untuk kategori tertentu seperti basketball, football, dan lifestyle klasik.
Masalahnya, pasar tidak lagi bergerak satu arah.
Dulu, banyak konsumen membeli sepatu karena ingin memakai brand yang sudah dianggap “aman” secara sosial. Sekarang, konsumen lebih berani mencoba. Jika ada sepatu yang nyaman, desainnya cocok, dan harganya terasa wajar, brand baru punya peluang masuk.
Perubahan ini terlihat dari beberapa kebiasaan belanja:
Konsumen membandingkan banyak brand sebelum membeli.
Review pengguna terasa lebih berpengaruh daripada poster kampanye.
Sepatu lokal tidak lagi dianggap pilihan cadangan.
Desain sederhana dan nyaman makin dicari untuk pemakaian harian.
Sepatu lari berubah menjadi sepatu lifestyle di banyak kota.
Brand besar masih kuat, tetapi mereka tidak lagi otomatis menjadi pilihan pertama untuk semua orang.
On, Skechers, dan New Balance menang di celah yang dulu kurang diperhatikan
On, Skechers, dan New Balance punya karakter yang berbeda, tetapi mereka sama-sama berhasil mengambil ruang yang dulu sering diabaikan oleh brand besar.
On dikenal lewat citra sepatu lari modern dengan bentuk sol yang khas. Brand ini menarik untuk konsumen yang ingin sepatu performa, tetapi tetap terlihat rapi untuk aktivitas harian. On tidak perlu terlihat terlalu ramai. Justru kesan bersih dan teknis menjadi daya tariknya.
Skechers bermain kuat di area kenyamanan. Banyak orang memilihnya bukan karena ingin terlihat paling trendi, tetapi karena sepatu itu enak dipakai lama. Untuk pekerja lapangan, orang yang sering berjalan, atau pengguna harian, poin ini sangat penting.
New Balance punya posisi menarik. Brand ini berhasil masuk ke gaya hidup anak muda tanpa kehilangan citra sepatu yang nyaman dan fungsional. Beberapa model klasiknya terasa fleksibel, bisa dipakai dengan celana jeans, chino, sampai outfit santai akhir pekan.

Tiga brand ini menunjukkan satu hal penting: market sepatu bergeser karena konsumen makin spesifik soal kebutuhan. Mereka tidak hanya bertanya, “Brand apa ini?” tetapi juga, “Sepatu ini enak dipakai untuk hidup saya sehari-hari atau tidak?”
Sepatu lokal juga mulai banyak diminati
Di Indonesia, sepatu lokal punya momentum yang kuat. Beberapa tahun terakhir, brand lokal makin serius soal desain, kualitas material, kenyamanan, dan marketing.
Dulu, produk lokal sering dilihat dari sisi harga saja. Sekarang, banyak brand lokal mulai punya karakter sendiri. Ada yang fokus ke sneakers minimalis, ada yang bermain di sepatu vulcanized, ada yang masuk ke running, hiking ringan, atau sandal harian.
Kelebihan terbesar brand lokal adalah kedekatan dengan pasar. Mereka memahami cuaca, kebiasaan pemakai, selera warna, daya beli, dan cara orang Indonesia menggunakan sepatu.
Contohnya, banyak konsumen di Indonesia butuh sepatu yang:
Tidak terlalu panas dipakai seharian.
Mudah dipadukan dengan pakaian kasual.
Harganya masih masuk akal untuk pembelian rutin.
Tahan untuk jalan kaki, naik motor, atau aktivitas kampus.
Tidak terlalu mencolok, tetapi tetap punya identitas.
Brand lokal juga lebih cepat membaca tren komunitas. Ketika ada model yang disukai, mereka bisa merespons dengan koleksi yang lebih relevan. Mereka tidak selalu harus menunggu siklus global yang panjang.

Harga dan value makin menentukan keputusan beli
Kenaikan biaya hidup membuat konsumen lebih berhitung. Sepatu bukan barang murah, apalagi jika dipakai untuk kerja, olahraga, dan gaya harian. Karena itu, banyak orang mulai menilai sepatu dari value, bukan sekadar prestise.
Value tidak selalu berarti paling murah. Value berarti harga terasa sebanding dengan manfaat.
Sepatu seharga ratusan ribu bisa terasa mahal jika cepat rusak. Sebaliknya, sepatu dengan harga lebih tinggi bisa terasa masuk akal jika nyaman, awet, dan sering dipakai.
Di titik ini, brand besar mendapat tekanan. Jika harga terlalu tinggi, konsumen akan membandingkan dengan alternatif lain. On, Skechers, New Balance, dan brand lokal bisa masuk karena menawarkan alasan yang lebih jelas bagi segmen tertentu.
Perbandingan yang sering terjadi di kepala konsumen kira-kira seperti ini:
Pertimbangan | Dulu | Sekarang |
Alasan beli | Logo dan tren besar | Kenyamanan, desain, dan harga |
Sumber pengaruh | Iklan dan atlet terkenal | Review pengguna dan komunitas |
Pilihan brand | Nama global dominan | Global, niche, dan lokal bersaing |
Ekspektasi produk | Terlihat keren | Enak dipakai dan tahan lama |
Pergeseran ini membuat pasar lebih terbuka. Brand yang bisa menjelaskan manfaat produknya dengan jujur akan lebih mudah diterima.
Media sosial membantu, tetapi pengalaman kaki tetap menang
Banyak brand baru tumbuh karena sering muncul di konten pendek, ulasan kreator, atau percakapan komunitas. Ini membantu konsumen mengenal pilihan baru. Meski begitu, sepatu tetap barang fisik. Pada akhirnya, keputusan ulang beli sangat bergantung pada pengalaman pemakaian.
Jika sepatu nyaman, orang akan merekomendasikannya. Jika ukurannya aneh, sol cepat aus, atau bahan terasa panas, hype tidak akan bertahan lama.
Ini menjadi pelajaran penting bagi semua pemain pasar. Brand besar tidak bisa hanya mengandalkan nama. Brand baru tidak bisa hanya mengandalkan viral. Brand lokal tidak bisa hanya mengandalkan sentimen dukungan lokal.
Produk tetap harus bagus.

Pasar sepatu akan makin terpecah dan itu sehat
Market sepatu kemungkinan tidak lagi dikuasai oleh sedikit nama seperti dulu. Konsumen akan terbagi ke banyak kelompok. Ada yang tetap memilih brand besar karena sejarah dan statusnya. Ada yang memilih On karena desain teknis. Ada yang memilih Skechers karena nyaman. Ada yang memilih New Balance karena cocok untuk gaya kasual. Ada juga yang makin percaya pada sepatu lokal.
Pergeseran ini sehat untuk pasar. Persaingan membuat brand harus bekerja lebih keras. Konsumen mendapat lebih banyak pilihan. Harga, kualitas, dan desain dipaksa menjadi lebih masuk akal.
Brand besar belum selesai. Mereka masih punya modal kuat. Tetapi era ketika logo besar bisa menjawab semua kebutuhan mulai memudar.
Takeaway paling jelas: pasar sepatu sedang bergerak dari dominasi nama besar menuju pilihan yang lebih personal. Brand yang menang bukan hanya yang paling terkenal, melainkan yang paling relevan dengan kaki, gaya hidup, dan kantong konsumennya.
Di samping tingginya persaingan brand sepatu yang terus meningkat, sepatu kamu pastinya tetap harus bersih dan terawat ya. Cara termudah adalah dengan menggunakan layanan cuci sepatu di SiBersih. Kamu cukup minta layanan antar jemput gratis dari tim kami, sepatu kamu akan kami bersihkan dan rawat dengan sepenuh hati!





Komentar